rss
twitter
    Find out what I'm doing,...

SEJARAH ANESTESI SPINAL

Penggunaan kokain pertama kali dilakukan oleh Carl Koller, ophthalmologist dari Wina sebagai kokain topikal untuk analgesia mata pada tahun 1884. Pada tahun 1885 , Gaedickle berhasi mendapatkan kokain dalam bentuk ester asam benzoat yang diisolasi dari tumbukan koka (Erythro seylon coca) yang banyak tumbuh di Pegunungan Andes. William Halsted dan Richard Hall, ahli bedah di Roosevelt Hospital di New York City, selangkah lebih maju dengan ide menyuntikkan anestesi lokal kokain ke jaringan manusia dan saraf untuk menghasilkan anestesi untuk operasi. James Leonard Corning, seorang ahli saraf di New York City, menggambarkan penggunaan kokain untuk anestesi spinal pada 1885. Corning pertama menyuntikkan kokain intratekal kepada seekor anjing dan dalam beberapa menit anjing telah mengalami kelemahan di bagian belakangnya. Berikutnya, Corning menyuntikkan kokain ke manusia di interspace T11-T12 ke dalam ruangan yang dia pikir adalah ruang subarachnoid. Karena Corning tidak melihat efek apapun setelah 8 menit, dia mengulangi injeksi. Sepuluh menit setelah injeksi kedua, pasien mengeluhkan lemah di kakinya, namun mampu berdiri dan berjalan. Pungsi dural dijelaskan oleh Paul Wynter pada tahun 1891 diikuti segera oleh Heinrich Quincke 6 bulan kemudian. Augustus Karl Gustav Bier, seorang ahli bedah Jerman, menggunakan 3 ml kokain 0.5% intrathecal pada enam pasien untuk pembedahan ekstremitas bawah pada tahun 1898, dan pada tahun 1908 dia memperkenalkan anestesi regional inatravena ( Bier’s Blok). Dengan metode ilmiah yang benar, Bier memutuskan untuk percobaan pada dirinya sendiri dan meneliti Post Dural Puncture Headache (PDPH). Asistennya, Dr Otto Hildebrandt, meneliti efek injeksi kokain intratekal dan kejadian PDPH tersebut. Setelah injeksi kokain intratekal ke Hildebrandt, Bier melakukan percobaan pada bagian bawah tubuh Hildebrandt dengan memberi tusukan jarum dan membakar cerutu ke kaki, incisi di paha, avulsi rambut kemaluan, pukulan kuat dengan palu besi ke tibia, dan torsi testis. Hildebrandt melaporkan rasa sakit minimal atau tanpa rasa sakit selama percobaan, namun ia mengalami mual, muntah. Bier mengaitkan PDPH dengan hilangnya LCS dan merasakan penggunaan jarum kecil akan membantu mencegah sakit kepala. Dudley Tait dan Guido Caglieri melakukan anestesi spinal pertama di San Francisco, Amerika Serikat pada 1899. Mereka melakukan penelitian menggunakan cadaver, binatang, dan pasien hidup untuk menentukan manfaat dari pungsi lumbal, terutama dalam pengobatan sifilis. Tait dan Caglieri menyuntikkan garam merkuri dan iodida ke dalam LCS. Rudolph Matas, seorang ahli bedah vaskuler di New Orleans, menjelaskan penggunaan kokain intratekal dan pertama kali menggunakan morfin dalam ruang subarachnoid. Matas juga menggambarkan komplikasi kematian setelah pungsi lumbal. Theodore Tuffier, seorang ahli bedah Prancis di Paris, meneliti anestesi spinal dan melaporkan penelitiannya pada tahun 1900. Tuffier menyatakan bahwa kokain tidak harus disuntikkan sampai cairan cerebrospinal. Tuffier mendemonstrasikan anestesi spinal di Paris dan mempopulerkan anestesi spinal di Eropa. Arthur Barker, seorang profesor bedah di University of London, melaporkan kemajuan teknik anestesi spinal pada tahun 1907, termasuk penggunaan anestesi lokal hiperbarik, kemajuan sterilitas, dan kemudahan teknik median daripada paramedian. Kemajuan sterilitas dan penyelidikan mengenai penurunan tekanan darah setelah injeksi anestesi spinal membuat anestesi spinal lebih aman dan lebih populer. Gaston Labat adalah pendukung kuat dari anestesi spinal di Amerika Serikat dan melakukan studi awal tentang efek posisi Trendelenburg terhadap tekanan darah setelah anestesi spinal. George Pitkin berusaha untuk menggunakan anestesi lokal hypobaric untuk mengontrol ketinggian level anestesi spinal dengan mencampur prokain dengan alkohol. Lincoln Sise, ahli anestesi di Klinik Lahey di Boston,. menggunakan teknik Barker dengan agen anestesi lokal hiperbarik baik dengan prokain maupun tetrakain. Anestesi spinal menjadi semakin populer dengan perkembangan baru yang terjadi, termasuk pengenalan anestesi Sadel Block oleh Adriani dari Romawi pada tahun 1946. Puncak popularitas anestesi spinal di Amerika Serikat terjadi di tahun 1940, namun kekhawatiran mengenai defisit neurologis dan komplikasi yang disebabkan menyebabkan dokter anestesi untuk menghentikan penggunaan anestesi spinal. Perkembangan agen anestesi intravena dan agen blok neuromuskuler bertepatan dengan penurunan penggunaan anestesi spinal. Pada 1954 Dripps dan Vandam menerangkan keamanan anestesi spinal pada lebih dari 10.000 pasien, disinilah mulainya kebangkitan spinal anestesi. Perkembangan awal jarum spinal merupakan awal pengembangan anestesi spinal. Corning menggunakan jarum emas yang memiliki titik bevel pendek, kanula yang fleksibel, sekrup set yang terfiksasi dan introducer bagi jarumnya. Quincke menggunakan jarum miring yang tajam dan berongga. Bier mengembangkan jarum yang tajam yang tidak memerlukan sebuah introducer. Jarum tersebut memiliki diameter yang lebih besar (15-gauge atau 17-gauge) dengan bevel yang panjang. Masalah utama dengan jarum Bier adalah rasa sakit pada insersi dan hilangnya anestesi lokal karena lubang besar di dura setelah pungsi dural. Jarum Barker tidak memiliki kanula di dalamnya, terbuat dari nikel, dan memiliki bevel tajam dengan stilet yang sesuai. Labat mengembangkan jarum nikel yang tajam, dengan bevel yang pendek. Labat percaya bahwa bevel pendek meminimalkan kerusakan pada jaringan ketika jarum dimasukkan. Herbert Greene menyadari bahwa kehilangan dari CSF merupakan masalah utama dalam anestesi spinal dan mengembangkan jarum ujung halus, jarum ukuran kecil yang mengakibatkan insiden PDPH lebih rendah. Barnett Greene menjelaskan bahwa penggunaan jarum 26-gauge dalam kebidanan akan menurunkan kejadian PDPH. Jarum Greene sangat populer sampai diperkenalkannya jarum Whitacre. Hart dan Whitacre menggunakan jarum pencil-point untuk mengurangi PDPH dari 5-10% sampai 2%. Sprotte memodifikasi jarum Whitacre dan mempublikasikan penelitiannya lebih dari 34.000 anestesi spinal pada tahun 1987. Modifikasi dari jarum Sprotte pada tahun 1990-an itulah yang sampai saat ini digunakan untuk anestesi spinal.  

Related Post



0 comments:

Poskan Komentar