rss
twitter
    Find out what I'm doing,...
Tampilkan postingan dengan label intravena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intravena. Tampilkan semua postingan

PROPOFOL


Propofol ( dipprivan, recofol) dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic dengan pemekatan 1% ( 1 ml = 10 mg). Suntikan intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg /kg intravena.

Dosis bolus untuk induksi 2-2.5 mg/kg, dosis rumatan untuk anesthesia intravena total 4-13 mg/kg per jam , atau 100 - 200 mcg/kgbb/menit dengan syringe pump dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0.2mg / kg atau 25 -50 mcg/kgbb/menit syringe pump. Pengenceran propofol hanya boleh dengan dextrose 5%. Pada manula dosis harus dikurangi, pada anak kurang dari 3 tahun dan pada wanita hamil tidak dianjurkan.


Sumber: http://www.pharmacology2000.com

Sumber: http://www.tbiomed.com

tambahan........
Propofol ( 2,6 – diisopropylphenol )

Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang Diprivan. Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi.
Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum, pada pasien dewasa dan pasien anak – anak usia lebih dari 3 tahun. Mengandung lecitin, glycerol dan minyak soybean, sedangkan pertumbuhan kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat atau sulfat, hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya. Obat ini dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg).

Mekanisme kerja
Mekanisme kerjanya sampai saat ini masih kurang diketahui ,tapi diperkirakan efek primernya berlangsung di reseptor GABA – A (Gamma Amino Butired Acid).

Farmakokinetik
Digunakan secara intravena dan bersifat lipofilik dimana 98% terikat protein plasma, eliminasi dari obat ini terjadi di hepar menjadi suatu metabolit tidak aktif, waktu paruh propofol diperkirakan berkisar antara 2 – 24 jam. Namun dalam kenyataanya di klinis jauh lebih pendek karena propofol didistribusikan secara cepat ke jaringan tepi. Dosis induksi cepat menyebabkan sedasi ( rata – rata 30 – 45 detik ) dan kecepatan untuk pulih juga relatif singkat. Satu ampul 20ml mengandung propofol 10mg/ml. Popofol bersifat hipnotik murni tanpa disertai efek analgetik ataupun relaksasi otot.

Farmakodinamik
Pada sistem saraf pusat
Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang kecil dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek analgetik, pada pemberian dosis induksi (2mg /kgBB) pemulihan kesadaran berlangsung cepat.
Pada sistem kardiovaskular
Dapat menyebakan depresi pada jantung dan pembuluh darah dimana tekanan dapat turun sekali disertai dengan peningkatan denyut nadi, pengaruh terhadap frekuensi jantung juga sangat minim.
Sistem pernafasan
Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada pemberian diprivan
Dosis dan penggunaan
a) Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV.
b) Sedasi : 25 to 75 µg/kg/min dengan I.V infuse
c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 – 150 µg/kg/min IV (titrate to effect).
d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila digabung penggunaanya dengan obat anastesi yang lain.
e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yang minimal 0,2%
f) Profofol mendukung perkembangan bakteri, sehingga harus berada dalam lingkungan yang steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari 6 jam untuk mencegah kontaminasi dari bakteri.

Efek Samping
Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%. Nyeri ini bisa muncul akibat iritasi pembuluh darah vena, nyeri pada pemberian propofol dapat dihilangkan dengan menggunakan lidocain (0,5 mg/kg) dan jika mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit dengan pemasangan torniquet pada bagian proksimal tempat suntikan, berikan secara I.V melaui vena yang besar. Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien setelah operasi menggunakan propofol. Propofol merupakan emulsi lemak sehingga pemberiannya harus hati – hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak seperti hiperlipidemia dan pankreatitis.

FROM MORGAN
PROPOFOL

Mechanisms of Action
The mechanism by which propofol induces a state of general anesthesia may involve facilitation of inhibitory neurotransmission mediated by GABA.

Structure–Activity Relationships
Propofol (2,6-diisopropylphenol) consists of a phenol ring with two isopropyl groups attached (Figure 8–9). Altering the side-chain length of this alkylphenol influences potency, induction, and recovery characteristics. Propofol is not water soluble, but a 1% aqueous solution (10 mg/mL) is available for intravenous administration as an oil-in-water emulsion containing soybean oil, glycerol, and egg lecithin. A history of egg allergy does not necessarily contraindicate the use of propofol because most egg allergies involve a reaction to egg white (egg albumin), whereas egg lecithin is extracted from egg yolk. This formulation can cause pain during injection (less common in elderly patients) that can be decreased by prior injection of lidocaine or by mixing lidocaine with propofol prior to injection (2 mL of 1% lidocaine in 18 mL propofol). Other formulations of propofol (eg, 1% propofol in 16% polyoxyethylated castor oil) may decrease injection discomfort. Propofol formulations can support the growth of bacteria, so good sterile technique must be observed in preparation and handling, including cleaning the rubber stopper or ampule neck surface with an alcohol swab prior to opening it. Administration should be completed within 6 h of opening the ampule. Sepsis and death have been linked to contaminated propofol preparations. Current formulations of propofol contain 0.005% disodium edetate or 0.025% sodium metabisulfite to help retard the rate of growth of microorganisms; however, these are still not antimicrobially preserved products under United States Pharmacopeia standards.

Pharmacokinetics
ABSORPTION
Propofol is available only for intravenous administration for the induction of general anesthesia and for moderate to deep sedation (see Table 8–7).

DISTRIBUTION
The high lipid solubility of propofol results in an onset of action that is almost as rapid as that of thiopental (one-arm-to-brain circulation time). Awakening from a single bolus dose is also rapid due to a very short initial distribution half-life (2–8 min). Most investigators believe that recovery from propofol is more rapid and is accompanied by less hangover than recovery from methohexital, thiopental, or etomidate. This makes it a good agent for outpatient anesthesia. A lower induction dose is recommended in elderly patients because of their smaller Vd. Women may require a higher dose of propofol than men and appear to awaken faster.

BIOTRANSFORMATION
The clearance of propofol exceeds hepatic blood flow, implying the existence of extrahepatic metabolism. This exceptionally high clearance rate (10 times that of thiopental) probably contributes to relatively rapid recovery after a continuous infusion. Conjugation in the liver results in inactive metabolites that are eliminated by renal clearance. The pharmacokinetics of propofol do not appear to be affected by moderate cirrhosis. Use of propofol infusion for long-term sedation of children who are critically ill or young adult neurosurgical patients has been associated with cases of lipemia, metabolic acidosis, and death.

EXCRETION
Although metabolites of propofol are primarily excreted in the urine, chronic renal failure does not affect clearance of the parent drug.

Effects on Organ Systems
CARDIOVASCULAR
The major cardiovascular effect of propofol is a decrease in arterial blood pressure due to a drop in systemic vascular resistance (inhibition of sympathetic vasoconstrictor activity), cardiac contractility, and preload. Hypotension is more pronounced than with thiopental but is usually reversed by the stimulation accompanying laryngoscopy and intubation. Factors exacerbating the hypotension include large doses, rapid injection, and old age. Propofol markedly impairs the normal arterial baroreflex response to hypotension, particularly in conditions of normocarbia or hypocarbia. Rarely, a marked drop in preload may lead to a vagally mediated reflex bradycardia. Changes in heart rate and cardiac output are usually transient and insignificant in healthy patients but may be severe enough to lead to asystole, particularly in patients at the extremes of age, on negative chronotropic medications, or undergoing surgical procedures associated with the oculocardiac reflex (see Chapter 38). Patients with impaired ventricular function may experience a significant drop in cardiac output as a result of decreases in ventricular filling pressures and contractility. Although myocardial oxygen consumption and coronary blood flow decrease to a similar extent, coronary sinus lactate production increases in some patients. This indicates a regional mismatch between myocardial oxygen supply and demand.

RESPIRATORY
Like the barbiturates, propofol is a profound respiratory depressant that usually causes apnea following an induction dose. Even when used for conscious sedation in subanesthetic doses, propofol infusion inhibits hypoxic ventilatory drive and depresses the normal response to hypercarbia. As a result, only properly trained personnel should use this technique. Propofol-induced depression of upper airway reflexes exceeds that of thiopental and can prove helpful during intubation or laryngeal mask placement in the absence of paralysis. Although propofol can cause histamine release, induction with propofol is accompanied by a lower incidence of wheezing in asthmatic and nonasthmatic patients compared with barbiturates or etomidate and is not contraindicated in asthmatic patients.

CEREBRAL
Propofol decreases cerebral blood flow and intracranial pressure. In patients with elevated intracranial pressure, propofol can cause a critical reduction in CPP (< 50 mm Hg) unless steps are taken to support mean arterial blood pressure. Propofol and thiopental probably provide a similar degree of cerebral protection during focal ischemia. Unique to propofol are its antipruritic properties. Its antiemetic effects (requiring a blood propofol concentration of 200 ng/mL) make it a preferred drug for outpatient anesthesia. Induction is occasionally accompanied by excitatory phenomena such as muscle twitching, spontaneous movement, opisthotonus, or hiccupping possibly due to subcortical glycine antagonism. Although these reactions may occasionally mimic tonic–clonic seizures, propofol appears to have predominantly anticonvulsant properties (ie, burst suppression), has been successfully used to terminate status epilepticus, and may be safely administered to epileptic patients. Propofol decreases intraocular pressure. Tolerance does not develop after long-term propofol infusions. Drug Interactions Nondepolarizing neuromuscular blocking agents may be potentiated by previous formulations of propofol, which contained Cremophor. Newer formulations do not share this interaction. Fentanyl and alfentanil concentrations may be increased by concomitant administration of propofol. Some clinicians administer a small amount of midazolam (eg, 30 g/kg) prior to induction with propofol; they believe the combination produces synergistic effects (eg, faster onset and lower total dose requirements). However, this technique of "coinduction" has questionable efficacy.
Read the rest of this entry...

KETALAR

KETALAR

Diperkenalkan oleh Domino dan Carsen pada tahun 1965
Derivat dari pencyclidin suatu obat anti psikosa
Golongan fenyl cyclohexylamine dengan rumus kimia 2-(0-chlorophenil) – 2 (methylamino) cyclohexanone hydrochloride
Rapid acting non barbiturat general anesthethic
Sifat fisik:
a. Larutan tidak berwarna

b. Stabil pada suhu kamar

c. Suasana asam (pH 3,5 – 3,5)

EFEK KETAKAR
a. Analgesi
Analgesi yang sangat kuat-------- meskipun penderita sudah sadar, efek analgesiknya masih ada.
Rasa nyeri yang terutama dihambat adalah nyeri somatic-----Tidak efektif untuk operasi organ visceral,kecuali pada anak(hernia+batu buli)
Baik untuk analgesi pada bayi/anak tanpa menyebabkan efek hipnotik – sedasi (menggunakan subdose 2,5 mg/kgBB, IM)

b. Relaksasi
Tidak mempunyai daya pelemas otot--- kadang-kadang malah tonus otot meningkat disertai gerakan-gerakan yang tidak terkendali, sehingga ketalar tidak begitu baik bila digunakan sebagai obat tunggal, seperti pada operasi intra abdominal dan operasi lain yang membutuhkan relaksasi


c. Hipnotik
Anestesi ini sering digunakan untuk induksi dan disusul dengan pemberian eter atau N2O.
Dalam keadaan tidur dapat terjadi gerakan-gerakan spontan dari lengan, tungkai, bibir, mulut bahkan sampai bersuara, walaupun dosisnya ditingkatkan sampai dosis yang mendepresi pernafasan.
Menimbulkan nistgmus, maka tidak dapat digunakan untuk operasi mata khususnya strabismus.
Dosis dapat diulang bila sudah terdapat reaksi rangsang nyeri

d. Anestesi Disosiatif
Menyebabkan disosiasi karena obat ini mempengaruhi asosiasi di korteks serebri---obat lain bekerja di sistima retikuler

Eksitasi dapat terjadi pada pemberian ketalar (seperti mimpi yang menakutkan), pencegahannya dengan pemberian obat tranquilizer. Ketalar juga berefek gangguan psikis setelah siuman dan gejala kejang sewaktu dalam anestesi. Efek ini dapat dicegah dengan pemberian valium

e. Sirkulasi
Merangsang pelepasan katekolamin andogen -------- terjadi peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan curah jantung. ------ efeknya menguntungkan untuk anestesi pada pasien syok/renjatan.
Ketalar tidak dapat digunakan pada:
Hepertensi yang berat ( >160/100mmHg)
Payah jantung
GPDO

f. Pernafasan
Depresi pernafasan kecil sekali dan hanya sementara
Menyebabkan dilatasi bronkhus dan bersifat antagonis terhadap efek kontraksi bronkhus oleh histamin.
Baik untuk penderita asma dan untuk mengurangi spasme bronkhus pada anestesi umum yang ringan.

g. Kardiovaskuler
Tekanan darah akan naik baik sistole maupun diastole.
Kenaikan rata-rata antara 20-25 % dari tekanan darah semula, mencapai maksimal beberapa menit setelah suntikan dan akan turun kembali dalam 15 menit kemudian.
Denyut nadi juga meningkat.


h. Efek Lainnya
Meningkatkan gula darah 15 % dari keadaan normal, walaupun demikian bukan merupakan kontraindikasi mutlak untuk penderita dengan DM.
Menyebabkan hipersalivasi, ------ dapat dikurangi dengan pemberian premedikasi antikolinergik.
Meningkatkan aliran darah ke otak, tekanan intrakaranial dan tekanan intra okuler meningkat ----digunakan pada pembedahan pasien dengan tekanan intrakranial yang meningkat (edema serebri, tumor intracranial) dan pasien pada pembedahan mata.
Pemberian 2-3 kali dosis normal hanya memperlama efek anestesi
Pasien harus dihindarkan dari rangsang sentuhan

Tida (3) tahap anestesi dengan ketalar
1.       Tidak sadar dan tidak merasa nyeri
2.       Tidak sadar tapi ada reaksi rangsang nyeri
3.       Berangsur pulih, efek analdegi masih ada

 Indikasi Pemakaian Ketalar

Ketalar dipakai baik sebagai obat tunggal maupun sebagai induksi pada anestesi umum :

1. Untuk prosedur dimana pengendalian jalan nafas sulit, misalnya pada koreksi jaringan sikatrik daerah leher, disini untuk melakukan intubasi kadang-kadang sukar.
2. Untuk prosedur diagnostik pada bedah syaraf/radiologi (arteriografi)
3. Tindakan orthopedi (reposisi, biopsi)
4. Pada pasien dengan resiko tinggi : ketalar tidak mendepresi fungsi vital. Dapat dipakai untuk induksi pada shock.
5. Untuk tindakan operasi kecil.
6. Di tempat di mana alat-alat anestesi tidak ada.
7. Pada asma, merupakan obat pilihan untuk induksinya.

Kontraindikasi pemakaian Ketalar
1. Pasien hipertensi dengan sistolik 160 mmHg pada istirahat dan diastolik 100 mmHg.
2. Pasien dengan riwayat CVD.
3. Dekompensasi cordis.
4. Penyakit dengan peningkatan tekanan intrakranial (edema serebri) atau peningkatan tekanan intra okuler.

Harus hati-hati pada :
1. Pasien dengan riwayat kelainan jiwa.
2. Operasi-operasi pada daerah faring karena refleks masih baik



 Dosis, Sediaan, dan  Pemberian
Tersedia dalam bentuk larutan vial 10 ml dan 50 mg/ml dan 20 ml 100mg/ml
iv : dosis 1-4 mg/kgBB, dengan dosis rata-rata 2 mg/kgBB dengan lama kerja ± 15-20 menit, dosis tambahan 0,5 mg/kgBB sesuai kebutuhan.
im : dosis 6-12 mg/kgBB, dosis rata-rata 10 mg/kgBB dengan lama kerja ± 10-25 menit, terutama untuk anak dengan ulangan 0,5 dosis permulaan.

pulih sadar pemberian ketamin kira-kira tercapai antara 10 – 15 menit, tetapi sulit untuk menentukan saatnya yang tepat, seperti halnya sulit menentukan permulaan kerjanya
harus diikuti pemberian O2
pada ODC jangan dipulangkan sebelum kesadaran pulih secara utuh

sumber : HSC’99











Ketalar

Analgesi kuat
Relaksasi (-)
Menimbulkan nistagmus
Anestesi disosiative
↑denyut nadi
↑curah jantung
↑gula darah
Depresi pernafasan

Kontraindikasi
Hipertensi
DM
Payah jantung
Gangguan sirkulasi otak

. Read the rest of this entry...

TIOPENTAL

TIOPENTAL

Pertama kali digunakan oleh Dandy dan Waters
Rumus kimia: 1-metil butyl tiobarbiturat
Sifat fisik
§  Serbuk kekuningan
§  Higroskopik
§  Larut dalam air dan alcohol
§  pH 10,6/ alkalis
§  dalam bentuk larutan tidak stabil hanya 24-28 jam
§  dalam bentuk serbuk tahan sampai 5 tahun
§  dalam bentuk larutan gak bias di campur dengan preparat analgetik, adrenalin, tubokurari, atau derifatnya

FARMAKOLOGI
75% terikat albumin, sisanya dalam bentuk bebas
Metabolism di hepar
Hasil metabolism thiopental karbohidrat
SSP
§  Cepat menembusa sawar darah otak
§  Mendepresi SSP secara progresif
§  Metabolism otak (CMRO2) turun sampai 21%
§  Tahanan vaskuler otak ↑…CBF ↓….TIK↓
§  Dosis subanestetik meningkatkan sensasi nyeri somatic (hipernanalgesia/antalanalgesia)

CARDIOVASCULAR
§  Mendepresi miokard langsung…kontraktilitas jantung↓….curah jantung ↓….tensi↓
§  Sitem elektrik jantung hanya sedikit terpengaruh
§  Pemberian cepat ---aritmia
§  Permberian lambat---tidak mengubah tampilan EKG
§  Vasodilatasi perifer
§  Vasokokstriksi spancnikus dan ginjal……urin output↓

RESPIRASI
§  Menekan pusat nafas
§  Frekuensi ↓
§  Tidal volume↓
§  Dosis kecil 0,5mg dalam 20-25 menit tidak mendepresi nafas
§  Dapat timbul bronkospasme dan laringospasme

GI TRACK
§  Motilitas  dan sekresi ↓
§  Anam untuk penderita DM
§  Mengganggu fx hepar pada pemberian 750 mg



Dosis besar akan memperlama kerja pelumpuh otot ‘curare like action”
Mudah melewati sawar darah plasenta
Otak janin tidak terdepresi pada penggunaan dosis dibawah 4 mg/kgbb….diatas 8 mg/kgbb terpengaruh
Menurunkan kadar kalium plasma pada 2-3 menit pertama..normal setelah 10 menit
Depresi protombine time
INDIKASI
§  INDUKSI ANESTESI UMUM
§  OPERASI YANG BERLLANGSUNG SINGKAT
§  OBAT TAMBAHAN ANALGESI REGIONAL
§  ANTIKONVILSAN  dalam anestesi umum, enelgesi local, eklamsi, tetanus, epilepsy
§  MELINDUNGI PADA TERAPI ECT
§  RESUSITASI OTAK
KONTRAINDIKASI
KHUSUS
§  HIPERSENSITIF
§  PRFIRIA
§  PAYAH JANTUNG
§  ATATUS ASMATIKUS
§  UREMIA BERAT
LAIN-LAIN
§  HIPOVOLEMIA
§  ANEMIA
§  MALNUTRISI
§  GANGG JALAN NAFAS
§  GANGG ELEKTROLIT
§  GANGG ENDOKRIN
§  PENYAKIT ADDISON
§  MIXEDEMIA
§  DM BERAT
PENGGUNAAN DIBATASI PADA MIASTENIA GRAVIS, ASHD, INSUFISIENSI KORONER
KOMPLIKASI
KOMPLIKASI UMUM
PERNAFASAN
§  DEPRESI NAFAS---karena induksi cepat dan larutan pekat
§  SPASME LARING---rangsangan local
§  SPASME BRONKUS---pada penderita asma
§  BATUK,BERSIN,CEGUKAN----dikurangi dengan skopolanin dan sulfas atropine
KARDIOVASKULER
§  KOLAPS---karena overdosis----depresi moikard dan vasodolatasi---diatasi dengan vasokonstiktor dan oksigenasi
KOMPLIKASI LOKAL
1.       INJEKSI PERIVENA: Nyeri baal local sampai nekrosis----dinetralisir dengan lidokain
2.       PLEBITIS: pada konsentrasi 5%---terjadi trombus
3.       INTRAARTERI:nyeri terbakar—ganggren, mati rasa , thrombus---diatasi dengan:
§  Prokain 1% 10-20 cc ---mengencerkan dan vasodilatasi
§  Papaverin 40-80 mg dalam 10-20 NaCl
§  Phenoksinemamin 0,5 mg atau drip NaCl 50-200 mcg/menit
§  Prinsip terapi---biarkan jarum diarteri, encerkan dengan NaCl, hilangkan spasme ,hilangkan nyeri, cegah thrombosis, blok saraf simpatis
DOSIS DAN SEDIAAN
TERSEDIA DALAM BENTUK na TIOPENTAL DALAM AMPUL 500mg dan 100mg
INTRAVENA:
Dosis awal 3-4 mg/kgbb; hasil memuaskan dengan menggunakan larutan 2,5%. Dosis berkisar 500mg-100mg
PEREKTAL
Terutama pada anak yang menjalani operasi kecil, kateterisasi jantung, pungsi lumbal. Dosis 250mg untuk bb 6-12 mg  dan 500mg untuk bb 12-15 mg
Digunakan larutan 5% denan dosis 45 mg/kgbb
Mulakerja 5-15 menit bertahan 30 menit ---pulih dalam 1 jam







FARMAKOLOGI TIOPENTAL

↑ TEKANAN VASCULAR OTAK
CBF ↓
TIK↓
↓KONTRAKTILITAS JANTUNG
↓CURAH JANTUNG
↓TENSI VASODILATASI PERIFER
VASOKONSTRIKSI SPANKNICUS
DEPRESI PUSAT NAFAS
↓KONTRAKTILITAS SALURAN CERNA
AMAN U/ PENDERITA DM .


------------------------------------------------------------------------------
tambahan..............
CARA KERJA PENTONAL

Pentotal termasuk golongan barbiturat, semua barbiturate untuk keperluan klinik berada dalam bentuk garam sodium (berupa bubuk kuning) dilarutkan dalam air menjadi larutan 2,5% atau 5% dengan PH 10,8.
Larutan pentotal tidak stabil tapi dapat disimpan 24 - 48 jam tanpa membahayakan, asalkan masih tetap jernih. Dianjurkan untuk segera memakai larutan yang telah disiapkan. Untuk menghilangkan efek negatif dari pentotal dianjurkan, memakai larutan 2,5%.
Pentotal merupakan anestetik kuat dan analgesik lemah. Pentotal merupakan anestetik umum yang merupakan yang paling banyak diberikan secara intravena

Metabolisme
Pentotal terutama terjadi hepar hanya sebagian kecil keluar lewat urine tanpa mengalami perubahan. Pentotal 10-15 % dari dalam tubuh akan dimetabolisir tiap jam. Pulih sadar yang cepat setelah pentotal disebabkan oleh pemecahan dalam hepar yang cepat diilusi dalam darah dan di redistribusi ke jaringan tubuh yang lain. Oleh karena itu pentotal termasuk obat dengan daya kerja sangat singkat “Ultra Short Acting Barbiturate” pentotal dalam jumlah kecil masih dapat ditemukan dalam darah 24 jam oleh karena itu dapat membahayakan bagi pasien tanpa mondok yang masih harus mengendarai mobil setelah sadar dari efek pentotal.

FARMAKOLOGI

Susunan syaraf pusat

Pentotal menimbulkan sedasi, hypnosis (tertidur), dan depresi pernapasan, tergantung dosis dan kecepatan pemberian. Efek analgesia sedikit dan terhadap SSP terlihat adanya depresi dan kesadarannya menurut secara progresif. Kontak dengan lingkungan, dengan gerakan-gerakan dan kemampuan menjawab pertanyaan pelan-pelan menghilang.

Pernapasan
Efek utama adalah depresi pusat pernapasan, tergantung besar dosis, dan kecepatan injeksi. Efek ini akan bertambah jelas bila sebelumnya diberikan opiat atau obat depresan lain.

Kardiovaskular
Pentotal mendepresi pusat vasomotor dan kontraktilitas miokard yang mengakibatkan vasodilatasi, sehingga dapat menurunkan curah jantung dan tekanan darah. Efek ini tergantung dosis dan lebih nyata pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.

KOMPLIKASI ANESTESIA DENGAN PENTOTAL

Lokal :

a. Injeksi perivena : akan menimbulkan rasa sakit, bengkak, kemerahan dan nekrosis. Untuk mengurangi rasa sakit disuntik Procain 1 % kurang lebih 1 cc ditempat tersebut.
b. Injeksi Intra Arteri : akan memberi rasa terbakar, terjadi spasme, arteri dan kemungkinan trombosis

Umum :

a. Depresi pernapasan, karena pemberian terlalu banyak atau terlalu cepat
b. Hipotensi (Syok), karena overdosis relative, terjadi vasodilatasi dan depresi miokard.
c. Pasca Operasi : vertigo, disorientasi
d. Reaksi anafilaksis

Dosis
Untuk hypnosis sangat sulit ditemukan; bersifat individual, tetapi pada umumnya untuk orang dewasa sehat, dosis hipnosis berkisar antara 3-5 mg/kg. biasanya untuk menghindarkan efek negatif dari pentotal tadi diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien.

Keuntungan
1. Induksi mudah dan cepat
2. Delirium tidak ada
3. Cepat pulih sadar
4. Iritasi mukosa jalan nafas tidak ada

Kekurangan
1. Depresi pernapasan
2. Depresi kardiovaskuler
3. Cenderung terjadi spasme laring
4. Relaksasi otot perut kurang
5. Bukan analgetika

Indikasi Pemakaian

1. Induksi pada anesthesia umum
2. Operasi / tindakan yang singkat
- Reposisi fraktur, insisi, jahit luka
- Tindakan ginekologi kecil (dilatasi dan kuret)
3. Sedasi pada analgesia regional
4. Mengatasi kejang-kejang eklamsia, epilepsi, tetanus

Kontraindikasi

Kontra Indikasi Absolut :
1. Status Asmatikus
2. Porfiria

Kontra Indikasi Relatif :
1. Syok
2. Anemia, uremia, disfungsi hepar, dosis harus dikurangi
3. Dispnoe berat
4. Asma bronchial
5. Versi Ekstraksi
6. Miastenia gravis
7. Vena yang sulit ditemukan (pada anak 4 tahun)
8. Riwayat alergi terhadap pentotal
. Read the rest of this entry...

ANESTESI INTRAVENA 1

Anestesi Intra Vena yang ideal mempunyai sifat :
• Larut dalam air
• Tidak mengiritasi jaringan
• Stabil dalam larutan
• Induksi cepat
• Pulih sadar cepat
• Tidak menyebabkan depresi jantung/paru
Analgesia dan amnesia Yang sering dipakai :
• Golongan barbiturat Na thiopental (pentotal) Na tiamilat Na metoheksilat
• Ketamin (ketalar)
• Neuroleptik Droperidol (innovar) Fentanil DBP (Dioperidol, Droleptan)
Yang paling popular di Indonesia adalah Pentotal dan Ketamin
Obat anestesi intravena, 2 golongan
1. Obat yang digunakan untuk induksi anestesi
2. Obat yang digunakan untuk mendapat keadaan nauroleptanalgesia, anestesi dissosiasi, sedasi (baik sendiri maupun kombinasi)
Umumnya obat anestesi IV digunakan untuk :
1. Induksi anestesi umum
2. Anestesi pada pembedahan yang singkat
3. Obat tambahan anestesi regional
4. Obat tambahan anestesi inhalasi yang kurang kuat
5. Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP (sedasi)

PENTHOTAL
Paling kuat efek antikoagulansianya, lebih poten, tidak baik untuk penderita asma
Gol. Tiobarbiturat “Ultrashort Acting” (2-4 jam) Ditemukan oleh : abbot Laboratories Digunakan : Lundy
Farmakodinamik
SSP: Mencapai otak dalam ½ menit Menyebabkan sedasi, hypnosis, dan sedikit analgesia Depresi pernapasan (menghambat pusat pernapasan di Med. Oblongata) tergantung dari dosis dan kecepatan pemberian obat Mempunyai efek antikonvulsi dan mempertinggi ambang saraf terhadap eksitasi Kebutuhan O2 dan aliran darah otak menurun (depresi terhadap penurunan O2 olehsel-selotak) sering dipakai pada penderita mengalami Hypoxic Cerebral Damage Pasca Cardiac Arrest
Sifat Kardiovaskuler
• Kontraksi otat jantung dihambat, dilatasi jantung, denyut menurun curah jantung menurun • Depresi pusat vasomotor vasodilatasi
• Penurunan tekanan darah tergantung jumlah dan kecepatan pemberian obat
• Tidak menyebabkan sensitasi jantung terhadap katekolamin
Sifat Pernapasan
• Tidal volume menurun dan kecepatan pernapasan meningkat
• Hindari penggunaan pada penderita asma
Sifat Saluran Cerna :
• Tonus otot saluarn cerna didepresi Aktivitas sekresi berkurang
• Amplitudo kontraksi berkurang Bayi Intra Uterina
• Melewati barrier plasenta • Efek depresi pernapasan
Ginjal
• Renal Blood Flow dan filtrasi glomerulus menurun
• Produksi urine menurun

Keuntungan
• Induksi cepat dan mudah
• Tidak terdapat stadium eksitasi
• Masa pulih cepat
• Tidak ada efek iritasi mukosa tractus respiratorius

Kerugian
• Depresi pernapasan
• Ada tendensi spasme laring
• Relaksasi otot abdomen jarang
• Depresi sirkulasi
• Gerakan otot yang tidak terkoordinasi
• Bukan analgetik

Kontra Indikasi
• Vena tidak ditemukan
• Hipersensitifitas barbiturat
• Status Asmaticus


Kontra Indikasi Absolut
• Porfiria laten atau manifest
• Hipotensi
• Penyakit jantung berat
• Asma bronchial

KETAMIN
Rapid Acting Non Barbiturat General Anestetic Golongan Phenylcyclohexlamine Termasuk golongan obat anestetik dissosiasi
Sifat khas : - Katalepsi - Sedasi yang ringan - Analgesic yang kuat - Amnesia
Farmakodinamik
SSP
• Merangsang saraf serebral
• Perangsangan pada extrapiramidal Tremor dan pergerakan otot involunter dengan hipertonus
• Kegelisahan dan konvulsi
• Meningkatkan aliran darah ke otak dan TIK diperkecil dengan Tiopentin Sodium
Sistem Kardiovaskuler
Tekanan darah, denyut jantung, dan curah jantung meningkat
Sistem Pernapasan
• Broncodilatasi dan hipersalivasi
• Refleks faring dan laring normal
Mata
• Tekanan Intra Okuler meningkat
Kulit
• Eritema yang bersifat sementara
• Generalized muscular Rash Efek pelepasan histamin
Pulih Sadar
• Mimpi yang tidak enak
• Disorientasi tempat dan waktu
• Halusinasi
Kontra Indikasi
• Penderita Hipertensi
• Pembedahan mata tertentu.
. Read the rest of this entry...

BARBITURAT



Anastesi dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tiada rasa sakit. Anastesi digunakan pada pembedahan dengan maksud mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesik) serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi).1


Usaha menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan menggunakan obat telah dilakukan sejah zaman dahulu termasuk pemberian alcohol dan opium secara oral. Tahun 1846, William morton, di Boston, pertama kali menggunakan obat anastesi dietil eter untuk menghilangkan nyeri operasi. Pada tahun yang sama, Jame Simpson, di Skotlandia, menggunakan kloroform yang 20 tahun kemudian diikuti dengan penggunaan nitrogen oksida, yang diperkenalkan oleh Davy pada era tahun 1790. pada tahun 1930 an, dunia anastesi mulai mengenal anastesi modern dengan pemberian obat-obat golongan barbiturat (tiopental) yang digunakan untuk efek hipnotik dan sedatif yang diberikan secara intravena.2


Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP), mulai yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan , hingga yang berat (kecuali benzodiazepine) yaitu hilangnya kesadaran, koma dan mati bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat sedasi menekan aktifitas, menurunkan respons terhadap rangsangan dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis, contohnya Barbiturat.3,8


A. Deskripsi Barbiturat


Barbiturat selama beberapa saat telah digunakan secara ekstensif sebagai hipnotik dan sedatif. Namun sekarang kecuali untuk beberapa penggunaan yang spesifik, barbiturat telah banyak digantikan dengan benzodiazepine yang lebih aman, pengecualian fenobarbital, yang memiliki anti konvulsi yang masih banyak digunakan.2


Secara kimia, barbiturat merupakan derivat asam barbiturat. Asam barbiturat (2,4,4-trioksoheksahidropirimidin) merupakan hasil reaksi kondensasi antara ureum dengan asam malonat.3,8


Susunan Saraf Pusat efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hipnosis, koma sampai dengan kematian. Efek antianseitas barbiturat berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan. Efek hipnotik barbiturat dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Efek anastesi umumnya diperlihatkan oleh golongan tiobarbital dan beberapa oksibarbital untuk anastesi umum. Untuk efek antikonvulsi umumnya diberikan oleh berbiturat yang mengandung substitusi 5-fenil misalnya fenobarbital.1,3,7,8


Pada SSP


Barbiturat berkerja pada seluruh SSP, walaupun pada setiap tempat tidak sama kuatnya. Dosis nonanastesi terutama menekan respon pasca sinap. Penghambatan hanya terjadi pada sinaps GABA-nergik. Walaupun demikian efek yang terjadi mungkin tidak semuanya melalui GABA sebagai mediator.


Barbiturat memperlihatkan beberapa efek yang berbeda pada eksitasi dan inhibisi transmisi sinaptik. Kapasitas berbiturat membantu kerja GABA sebagian menyerupai kerja benzodiazepine, namun pada dosis yang lebih tinggi dapat bersifat sebagai agonis GABA-nergik, sehingga pada dosis tinggi barbiturat dapat menimbulkan depresi SSP yang berat.7,8


Pada susunan saraf perifer


Barbiturat secara selektif menekan transmisi ganglion otonom dan mereduksi eksitasi nikotinik oleh esterkolin. Efek ini terlihat dengan turunya tekanan darah setelah pemberian oksibarbital IV dan pada intoksikasi berat.8


Pada pernafasan


Barbiturat menyebabkan depresi nafas yang sebanding dengan besarnya dosis. Pemberian barbiturat dosis sedatif hampir tidak berpengaruh terhadap pernafasan, sedangkan dosis hipnotik menyebabkan pengurangan frekuensi nafas. Pernafasan dapat terganggu karena : (1) pengaruh langsung barbiturat terhadap pusat nafas; (2) hiperefleksi N.vagus, yang bisa menyebabkan batuk, bersin, cegukan, dan laringospasme pada anastesi IV. Pada intoksikasi barbiturat, kepekaan sel pengatur nafas pada medulla oblongata terhadap CO2 berkurang sehingga ventilasi paru berkurang. Keadaan ini menyebabkan pengeluaran CO2 dan pemasukan O2 berkurang, sehingga terjadilah hipoksia.1,3,7


Pada Sistem Kardiovaskular


Barbiturat dosis hipnotik tidak memberikan efek yang nyata pada system kardiovaskular. Frekuensi nadi dan tensi sedikit menurun akibat sedasi yang ditimbulkan oleh berbiturat. Pemberian barbiturat dosis terapi secara IV dengan cepat dapat menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak. Efek kardiovaskular pada intoksikasi barbiturat sebagian besar disebabkan oleh hipoksia sekunder akibat depresi nafas. Selain itu pada dosis tinggi dapat menyebabkan depresi pusat vasomotor diikuti vasodilatasi perifer sehingga terjadi hipotensi.1,2,8



Pada Saluran Cerna


Oksibarbiturat cenderung menurunkan tonus otot usus dan kontraksinya. Pusat kerjanya sebagian diperifer dan sebagian dipusat bergantung pada dosis. Dosis hipnotik tidak memperpanjang waktu pengosongan lambung dan gejala muntah, diare dapat dihilangkan oleh dosis sedasi barbiturat.1,3


Pada Hati


Barbiturat menaikan kadar enzim, protein dan lemak pada retikuloendoplasmik hati. Induksi enzim ini menaikan kecepatan metabolisme beberapa obat dan zat endogen termasuk hormone stroid, garam empedu, vitamin K dan D.3


Pada Ginjal


Barbiturat tidak berefek buruk pada ginjal yang sehat. Oliguri dan anuria dapat terjadi pada keracunan akut barbiturat terutama akibat hipotensi yang nyata.7,8


B. Farmakokinetik


Barbiturat secara oral diabsorpsi cepat dan sempurna dari lambung dan usus halus kedalam darah. Secara IV barbiturat digunakan untuk mengatasi status epilepsi dan menginduksi serta mempertahankan anastesi umum. Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat melewati plasenta, ikatan dengan protein plasma sesuai dengan kelarutan dalam lemak; tiopental yang terbesar.7


Barbiturat yang mudah larut dalam lemak, misalnya tiopental dan metoheksital, setelah pemberian secara IV, akan ditimbun di jaringan lemak dan otot. Hal ini akan menyebabkan kadarnya dalam plasma dan otak turun dengan cepat. Barbiturat yang kurang lipofilik, misalnya aprobarbital dan fenobarbital, dimetabolisme hampir sempurna didalam hati sebelum diekskresi di ginjal. Pada kebanyakan kasus, perubahan pada fungsi ginjal tidak mempengaruhi eliminasi obat. Fenobarbital diekskresi ke dalam urine dalam bentuk tidak berubah sampai jumlah tertentu (20-30 %) pada manusia.


Faktor yang mempengaruhi biodisposisi hipnotik dan sedatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal terutama perubahan pada fungsi hati sebagai akibat dari penyakit, usia tua yang mengakibatkan penurunan kecepatan pembersihan obat yang dimetabolisme yang terjadi hampir pada semua obat golongan barbiturat.


C. Indikasi


Penggunaan barbiturat sebagai hipnotik sedatif telah menurun secara nyata karena efek terhadap SSP kurang spesifik yang telah banyak digantikan oleh golongan benzodiazepine. Penggunaan pada anastesi masih banyak obat golongan barbiturat yang digunakan, umumnya tiopental dan fenobarbital.1,4,5,6,7,8


· Tiopental


1. Di gunakan untuk induksi pada anestesi umum.


2. Operasi yang singkat (reposisi fraktur, insisi, jahit luka).


3. Sedasi pada analgesik regional


4. Mengatasi kejang-kejang pada eklamsia, epilepsi, dan tetanus


· Fenobarbital


1. Untuk menghilangkan ansietas


2. Sebagai antikonvulsi (pada epilepsi)


3. Untuk sedatif dan hipnotik


D. Kontra Indikasi


Barbiturat tidak boleh diberikan pada penderita alergi barbiturat, penyakit hati atau ginjal, hipoksia, penyakit Parkinson. Barbiturat juga tidak boleh diberikan pada penderita psikoneurotik tertentu, karena dapat menambah kebingungan di malam hari yang terjadi pada penderita usia lanjut.3,4,5


E. Efek Samping2,7,8


Hangover, Gejala ini merupakan residu depresi SSP setelah efek hipnotik berakhir. Dapat terjadi beberapa hari setelah pemberian obat dihentikan. Efek residu mungkin berupa vertigo, mual, atau diare. Kadang kadang timbul kelainan emosional dan fobia dapat bertambah berat.


Eksitasi paradoksal, Pada beberapa individu, pemakaian ulang barbiturat (terutama fenoberbital dan N-desmetil barbiturat) lebih menimbulkan eksitasi dari pada depresi. idiosinkrasi ini relative umum terjadi diantara penderita usia lanjut dan lemah.


Rasa nyeri, Barbiturat sesekali menimbulkan mialgia, neuralgia, artalgia, terutama pada penderita psikoneurotik yang menderita insomnia. Bila diberikan dalam keadaan nyeri, dapat menyebabkan gelisah, eksitasi, dan bahkan delirium.


Alergi, Reaksi alergi terutama terjadi pada individu alergik. Segala bentuk hipersensitivitas dapat timbul, terutama dermatosis. Jarang terjadi dermatosis eksfoliativa yang berakhir fatal pada penggunaan fenobarbital, kadang-kadang disertai demam, delirium dan kerusakan degeneratif hati.


Reaksi obat, Kombinasi barbiturat dengan depresan SSP lain misal etanol akan meningkatkan efek depresinya; Antihistamin, isoniasid, metilfenidat, dan penghambat MAO juga dapat menaikkan efek depresi barbiturat.


F. Posologi


Tabel 1. Nama obat, Bentuk sediaan dan Dosis Hipnotik Sedatif
Nama obat



Bentuk sediaan



Dosis dewasa (mg)




Sedatif Hipnotik



Amobarbital




Aprobarbital




Butabarbital




Pentobarbital




Sekobarbital




fenobarbital



K,T,I,P




E




K,T,E




K,E,I,S




K,T,I




K,T,E,I



30-50 2-3xd 65-200




40 3xd 40-160




15-30 3-4xd 50-100




20 3-4xd 100




30-50 3-4xd 50-200




15-40 2-3xd 100-320





Dimodifikasi dari Goodman and Gilman, 1990

Keterangan :

K : kapsul, E : eliksir, I : injeksi, L : larutan, P : bubuk, S : supositoria, T : tablet



A. Intoksikasi

Intoksikasi barbiturat dapat terjadi karena percobaan bunuh diri, kelalaian, kecelakaan pada anak-anak atau penyalahgunaan obat. Dosis letal barbiturat sangan bervariasi. Keracunan berat umumnya terjadi bila lebih dari 10 kali dosis hipnotik dimakan sekaligus. Dosis fatal fenobarbital adalah 6-10 g, sedangkan amobarbital, sekobarbital, dan pentobarbital adalah 2-3 g. kadar plasma letal terendah yang dikemukakan adalah 60 mcg/ml bagi fenobarbital, dan 10 mcg/ml bagi barbiturat dengan efek singkat, misal amobarbital dan pentobarbital.1,3,8

Gejala simtomatik keracunan barbiturat ditunjukan terutama terhadap SSP dan kardiovaskular. Pada keracunan berat, reflek dalam mungkin tetap ada selama beberapa waktu setelah penderita koma. Gejala babinzki sering kali positif. Pupil mata mungkin kontraksi dan bereaksi terhadap cahaya, tapi pada tahap akhir keracunan mungkin dapat terjadi dilatasi. Gejala intoksikasi akut yang bahaya ialah depresi pernafasan berat, tekanan darah turun rendah sekali, oligiuria dan anuria.3

B. Pengobatan Intoksikasi

Intoksikasi barbiturat akut dapat diatasi dengan maksimal dengan pengobatan simtomatik suportif yang umum.

Dalamnya koma dan ventilasi yang memadai adalah yang pertama dinilai. Bila keracunan terjadi < 24 jam sejak makan obat, tindakan cuci lambung dan memuntahkan obat perlu dipertimbangkan, sebab barbiturat dapat mengurangi motilitas saluran cerna. Tindakan cuci lambung serta memuntahkan obat perlu dilakukan hanya setelah tindakan untuk menghindari aspirasi dilakukan. Setelah cuci lambung, karbon aktif dan suatu pencahar (sarbitol) harus diberikan. Pemberian dosis ulang karbon (setelah terdengar bising usus) dapat mempersingkat waktu paruh fenobarbital. Pengukuran fungsi nafas perlu dilakukan sedini mungkin. Pco2 dan O2 perlu dimonitor, dan pernafasan buatan harus dimulai bila diindikasikan.1,7,3Pada keracunan barbiturat akut yang berat, syok merupakan ancaman utama. Sering kali penderita dikirim ke rumah sakit dalam keadaan hipotensi berat atau syok, dan dehidrasi yang berat pula. Hal ini segara diatasi, bila perlu tekanan darah dapat ditunjang dengan dopamineC. Interaksi ObatInteraksi obat yang paling sering melibatkan hipnotik-sedatif adalah interaksi dengan obat depresan susunan saraf pusat lain, yang menyebabkan efek aditif. Efek aditif yang jelas dapat diramalkan dengan penggunaan minuman beralkohol, analgesik narkotik, antikonvulsi, fenotiazin dan obat-obat anti depresan golongan trisiklik.1,2DAFTAR PUSTAKA1. Katzung, 1998, Farmakologi Dasar dan Klinis, Staf Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Hal : 351-3662. Tjay dan Rahardja, 2003, Obat-obat Penting, PT Elex Media Komputindo Klompok Gramedia, Jakarta, Hal :357-3693. H. Sarjono, Santoso dan Hadi R D., 1995., Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Indonesia., Jakarta., Hal: 124-1394. Muhiman, Dkk, 1989, Anastesiologi, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Indonesia., Jakarta., Hal: 65-695. ,2000, catatan kuliah Anastesiologi, bagianAnastesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, Hal : 16-186. Latief S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R., 2001., Edisi II, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Indonesia., Jakarta., Hal: 77-83, 1617. www.home.intekom.com8. www.drugs.com
sumber: medlinux.blogspot.com
Read the rest of this entry...